CURCOL 23.4

 

Kemandirian

 


    Selamat membaca sesi Curcol alias curhat colongan versi 23.4, sebuah ungkapan overthingking di malam hari (biasanya tengah malam menjelang dini hari).

     Sejak menempuh semester tua, segala pikiran malam hari saya selalu mengacu pada “apakah saya sanggup hidup tanpa kiriman orang tua? Apakah saya mampu mandiri dan hidup secara prihatin?” kalau dipandang secara optimis pasti akan ada jalan untuk tiap upaya manusia yang dikerjakan, cuma rasanya ketika uang akhir bulan menipis dunia serasa ladang penderitaan, belum lagi jika ada keperluan yang mengharuskan uang keluar tanpa estimasi yang pasti.

Merenung di kala malam menjadi  makanan sehari-hari, rasanya pun tak aneh jika duduk menyendiri di sudut perpustakaan kampus meskipun jam telah menunjukkan pukul 22.00 lewat. Pertanyaan terhadap diri sendiri saja belum menemukan jawabannya, apalagi orang lain yang mempertanyakan status mahasiswa semester akhir. Jujur, bukannya mudah tersinggung, bagi saya jika ditanya progres skripsi atau perkara hidup yang lain rasanya standar dan manusiawi, masalahnya terletak pada pertanyaan tersebut yangmalah membuat saya merasakan ironi kehidupan yang saya pun tak tahu jawabannya. Mengapa? Ya kebanyakan progres hidup di fase ini(semester akhir) bergantung banyak faktor, seperti orang-orang yang terlibat, keberuntungan waktu, kesempatan dan lain sebagainya yang secara garis besar mengesampingkan kompetensi diri. Kalau ini Cuma tugas biasa, ngelembur dua hari pun jadi.

Kembali ke bagian kemandirian, disamping proses akhir yang harus diselesaikan, masih ada tahapan ke depan yang pasti ditanyakan entah dari diri sendiri maupun orang lain. di umur segini, bagaimana caranya bisa mandiri dalam banyak aspek? Kalau hobi membandingkan hidup, melihat saudara -yang meskipun tidak kuliah di umur 23 tahun sudah punya rumah meski KPR, ada pula yang di umur 20 tahun bisa studi di luar negeri akan sangat mengecilkan hati, kenapa saya masih begini-gini saja? Penilaian  memang menjadikan hal lain sebagai tolak ukur. Ya, harus bisa berdamai bahwa jalan hidup saya berbeda dan punya porsi yang dikatakan tidak seberuntung mereka tapi tidak pula sangat menderita. Sering kali terbesit keinginan hidup di sebuah tempat baru, memulai pekerjaan dan hari baru, tetapi hal-hal semacam itu pun butuh modal, pegangan secara finansial. Sialnya, dengan kepemilikan waktu yang melimpah ini saya malah belum tau mau digunakan untuk apa, yang kemudian memunculkan ketakutan nanti saya ada di ujung waktu dan tidak sempat membangun rencana kehidupan yang hendaknya dijalankan.

    Manusia takut pada hal yang tidak ia ketahui, kutipan yang sering didengar baik dalam singgungan filsafat maupun kesehatan mental. Sebenarnya untuk saya, saya lebih tidak menyukai keadaan bingung dan perasaan tidak tahu harus melakukan apa,meski banyak yang bilang dinikmati saja. Sementara, saya sewaktu-waktu mendengarkan beberapa  kajian terkait “philosophy of fear.” “clear mind.” Atau yang menyinggung nama-nama filsuf seperti Socrates, kiekegaard, dan Albert Camus. Dari mendengarkan topik itu saya sedikit mendapat pencerahan tapi ya, harus dibarengi dengan merumuskan permasalahan sendiri dan mencari jalan keluar. Sayangnya, akhir-akhir ini saya bosan, kebanyakan pula menentang argumen diri sendiri yang berakhir lelah kemudian memejamkan mata.

Mencari jawaban, mencari jalan demi sebuah kemandirian. Pukul 01.33 dini hari menjelang idul fitri, entah mengapa saya yakin akan ada jalan untuk setiap permasalahan.  Paling tidak, agaknya akan cukup meski dibarengi dengan naik turun keadaain “Roller Coaster of Life.” 

Bis Bald, tschuss

Komentar

Postingan Populer