Es deh

 Ini adalah postingan ulang tugas bahasa indonesia kelas 12 dua tahun yang lalu. Bahasa yang agak berantakan, cerita yang terlalu dilebihkan dan beberapa pengubahan dari kejadian asli

' ' '

Aku naik ke kelas dua, ada beberapa anak yang tak naik kelas, tiga laki-laki dan satu perempuan. Sebuah pertemuan yang akan menjadi awal pertikaian ku dengan gadis yang tak naik kelas itu. Penyebabnya ia tak naik kelas aku tak tahu pastinya, tapi kesan pertamaku dengannya tak baik, melihat betapa hitam kuku jemarinya dan cara bicaranya yang sok senior sepertinya akan banyak drama yang terjadi. Namun tunggu dulu, sesuatu yang baru ku sadari setelah duduk di kursi sebelah anak itu adalah wajahnya familiar.

Aku baru ingat saat aku mengaji di masjid umurku sekitar enam tahun (walau itu tak berjalan lama, sekitar dau tahun saja). Penyebabnya banyak, selain agak kurang nyaman dengan anak-anaknya, Insiden sandalku hilang pun tak kalah memuakkan. Aih, masa aku tak ingat wajah orang yang mencuri sendalku di masjid dan membuangnya ke kali?  Vianu, gadis bermata sipit dengan rambut sebahu yang lepek dan tak terurus. Menyebalkan, Aku waktu itu harus nyeke, sampai rumah sontak aku marah dan menangis.

Di kelas dua aku memang tak duduk dekat dengannya, dia pun masih sering main dengan anak kelas 3 yang sebelum ia tak naik kelas notabennya adalah teman Vianu.

Kelas tiga awal pertikaianku terjadi, Vianu duduk di bangku belakangku (baris 1 kolom 3, dia duduk sendiri). Kejadian dimulai saat dia mengejekku, awalnya kubiarkan, makin lama makin berisik, otomatis aku tidak tinggal diam. Padahal ini ejek-ejekan khas anak SD -nama orang tua- tapi ia menambahkan kata-kata tak senonoh dibelakang nama bapakku. Kami saling berbalas sampai ia menyakar tanganku, ku balas cakar. Kami saling berbalas cakar sampai ada yang melaporkan kami. Kami dilerai dan duduk terpisah lebih jauh. Vianu duduk sendiri di belakang(baris 4 kolom 4). Begitulah, Ia memang menyebalkan, terbukti bukan aku saja yang sebal padanya. Beberapa anak juga ada yang ribut dengan Vianu, saling ejek dan saling cakar.

Kelas empat SD, ulah tergila yang pernah Vianu lakukan. Vianu mengaku dia nabi, sok meramalkan kiamat pada 20, April, tahun 2009. Ini entah guyon atau ia lagi caper, motivasi yang tidak jelas. temanku Lia menantangnya.

“Vianu, kalau kamu memang benar nabi, kamu harus buktikan ucapanmu!” kata Lia

“Tentu, aku kan nabi.” Vianu tertawa sinis, entah karena ada yang menggubris leluconnya atau unknownable reason.

Tentu itu takan terjadi. 20 April 2009 dunia aman. Vianu disoraki seisi kelas. 

Selang satu tahun kejadian terbodoh yang aku lakukan terjadi. Vianu lebih sering mengolok-oloku dari biasanya entah dendam kesumat apa dia denganku. Ia kadang menjelek-jelekanku di depan teman kadang pula mengejek nama bapakku. Sudah beberapa minggu mulutnya menjadi semenyebalkan itu. Aku tak tahan. Hari itu juga kebetulan aku membawa minyak kayu putih, aku sedang tak enak badan. Vianu menghampiriku saat jam istirahat.

“Nis,  minta minyak kayu putihnya boleh?” Vianu tiba-tiba menjadi protagonis di depanku, matanya sok merayu, dibulat-bulatkan dan suaranya dilembutkan.

Aku sedang kesal, kekesalan seminggu yang dipendam kucurahkan dari itu. Minyak kayu putih dalam sekejap membasahi rambut Vianu, teman sebangkuku melihat kejadian ini . Ia marah, menangis. Aku puas. Sekejap rasa puas itu berubah 180 derajat menjadi rasa bersalah, aku pun menghampirinya.

“Vianu, maaf aku tak sengaja, aku tak melihat ini akan kena rambutmu.”

Vianu menatapku sinis, lalu mengabaikanku dan tak menjawab.

Hari berganti hari, hubungan kami tidak membaik, tanpa tengok menengok apalagi sapa.

Sialnya, sebuah kebenaran baru diketahui belakangan. Vianu adalah saudara dari guru kelas lima kami. Ia tentu telah bercerita kepada bu guru tentang kelakuanku.

Hari kedua setelah kejadian itu, bel membunyikan tanda pulang, Vianu tak pulang. Kulihat Ia dicegat guru, sepertinya untuk diinterogasi. Aku masa bodo, itu memang bukan urusanku. Aku dengan santai berjalan pulang bersama yang lain.

Esoknya Vianu menghampiriku.

“Nis, kamu beruntung tak dikeluarkan dari sekolah.”

Aku terenyak, baru saja ku letakan tas di atas meja, sekejap mata tas itu jatuh.

“Kemarin guru-guru menanyaiku tentangmu.”

Dahiku menernyit, ku lihat Vianu tersenyum antagonis.

“Itu si cuma karena buguru kasihan aja sama kamu, kasihan deh loe!”

Vianu pergi meninggalkanku, dari belakang rambut pendeknya bergoyang pergi.

Kasus itu memang cuma sampai situ, tanpa diperpanjang. Hari berjalan biasa saja. Tentu, aku tak ingin memikirkannya lebih jauh. Vianu tetap saja menyebalkan, untung kami semakin jauh dan aku pun memilih tidak berurusan maupun mengobrol dengannya demi menghindari masalah.

Baiknya, hari berlalu cepat. Kami lulus dan aku melanjutkan sekolah menengah di Bumiayu. Sesekali aku bertemu dengannya dalam angkudes. Ia sekolah di SMP swasta, agak jauh dari tepat ku sekolah. Biasanya ia menyapaku, aku cuma berbalas tersenyum.

Tiga tahun di SMA, tiga tahun pula aku tak berjumpa dengan Vianu lagi, entah dimana ia. Kabar terakhir yang ku dengar ia dikeluarkan dari SMK tempatnya sekolah. Semoga ia sehat dan panjang umur. Kalau kami bertemu, aku akan selalu mengingat seluruh kejadian ini saat bicara dengannya, bisa saja kami berdamai. Plot twist : Vianu sudah menikah dan sudah dikaruniai anak, katanya si dengan orang Sumatera.

Komentar

Postingan Populer