Ketika hidup terasa begini-begini saja
Bukan tidak mencoba melangkah, tapi langkah yang bagaimana lagi yang harus dijalankan?
Kebingungan dalam diri sendiri
Ketakutan dan waktu yang berjalan begitu cepat.
Ketika melihat orang lain dengan kehidupan dinamis milik mereka, mampu mandiri secara finansial dan kebahagiaan lain yang terlihat. Solusi hal itu bisa dikontrol dengan tidak melihat apa yang orang-orang bagikan di dunia maya. Namun apa berhenti begitu saja? Kemudian jiwa ini merasa tidak hidup
Kosong mlompong, penuh dengan kebingungan akibat ketidak-tahuan.
Semoga saja saya tidak termasuk manusia yang berputus asa dari rahmat Tuhan.
Berbulan-bulan perasaan ini selalu ada, sakit dan membuat tidak bisa apa-apa.
Kali ini saya mau cerita jujur.
Saya selalu rangking 1 sejak SD dan Madrasah (ada beberapa miss juga, saya pernah rangking 3 sekali)
SMP selalu paralel dan tidak jauh dari rangking 1 di kelas (kls 7 pernah tidak paralel dan rangking 5 kelas)
SMA selalu paralel dan tidak jauh dari rangking 123 kelas.
Lumayan bersinar. Tapi untuk kehidupan sekarang, apakah saya salah dulu berusaha belajar atau saya yang kurang menempa diri sendiri?
Keputusan dan langkah yang saya ambil sudah jadi tanggung jawan saya untuk diselesaikan. Saya takut akan kedepannya, estimasi perkiraan dengan kenyataan yang ada di sekitar terlalu menyakitkan. Hidup memang bukan kompetisi, tapi saat berada di bawah dan diinjak-injak apakah tidak sakit? Doa saya selalu "Tuhan mohon tunjukkan jalanMu." Saya tidak ingin kehampaan ini ada terus-terusan, katanya semua dimulai dari diri sendiri, tetapi saya lelah apalagi dengan wabah ini yang memaksa saya tinggal di rumah dan tiba-tiba menjadi mahasiswa semester akhir. Saya harap saya bisa kuat, tapi ke depannya bagaimana?
Saya juga bingung dengan keuangan, semua kemungkinan berputar di kepala saya. Jika Tuhan benar-benar membantu saya, atau saya dibantu dengan pengalaman keras yang menyakitkan nanti tapi mendewasakan. Saya terlalu takut, tanpa tenaga.
Sampai berapa lama lagi setiap hirup napas terasa sesak? Mengubah mindset sendiri, tapi saya tidak punya tenaga untuk apapun. Terakhir kali saya termotivasi keesokan harinya hal menyedihkan datang menjamu.
Saya paham kehidupan orang lain sama-sama menyakitkan bahkan lebih, tapi bagaimana agar tetap waras, saya takut saya kehilangan diri sendiri.
Teman saya satu persatu sibuk dengan kehidupannya, tidak mungkin saya mengganggu hanya untuk menceritakan kerisauan saya.
Kini tinggal saya sendiri, saya harap saya masih waras, akhir-akhir ini saya sering tidak enak badan. Berbicara dengan orang terasa asing, tertekan mudah lelah padahal tidak melakukan apa-apa.
Saya takut cahaya dalam dada saya padam, menjadi gelap. Terlebih ketika teman kuliah saya yang sebenarnya saya tidak cocok dengan dia bercerita betapa sibuknya dia sembari bertanya tugas kepada saya, yang kali ini bangun saja rasanya sedih. Saya takut saya iri kepadanya dan akan makin menambah rasa sakit.
Butuh usaha untuk menulis ini, dengan air mata yang tiba-tiba menetes.
Komentar
Posting Komentar