Cita-cita?

"You can be just the one you wanna be"

Lagu dari Darin Zanyar yang tidak sengaja ada di playlist laptop saya terplay otomatis. Lagu lama yang memorable.  “Kamu bisa jadi apa yang kamu mau” frase itu terngiang-ngiang di kepala saya, karena sekarang tidak relevan terutama untuk saya yang kentang. Namun saya coba berpikir lagi, apa saat SD dulu saya sudah punya cita-cita seperti di lagu tersebut? Hem...

Tulisan saya kali ini memang agak pesimis, tapi tidak dimaksudkan juga untuk merusak dunia anak-anak. Belum waktunya juga mereka merasakan dunia yang keras. Agaknya saya belum pantas bilang begini juga, karena saya juga masih newbie dalam hidup di dunia, garam dalam hidup saya juga belum seberapa. Saya Cuma orang yang gagal pada satu mimpi dan masih menjalankan hal yang saya belum tahu ke depannya bagaimana. Singkatnya kata saya hanya manusia yang awam dan masih labil.

Kembali lagi ke lagu tersebut, you can be just the one you wanna be, dari doctor, lawyer or a singer, presiden, policeman dan lainnya.  kita bisa jadi apapun, katanya, tapi realita tidak selalu berkata demikian, kita sadar saat kita makin besar. Hanya beberapa persen anak yang mimpinya bisa tercapai. Perlu konsistensi pikiran, tindakan dan support environment. Kebanyakan yang berhasil tentu dari keluarga yang berkecukupan. Lain halnya dengan anak-anak keluarga menengah ke bawah yang saat menginjak dewasa sudah mulai menanggung beban keluarga dan otomatis mengesampingkan cita-citanya atau di lain kasus karena lingkungan, ada yang salah jalan maupun akhirnya memiliki pemikiran pendek.

Hidup layaknya bermain peran. Peran saat kita terlahir sampai meninggal. Saat masih kecil perbedaan kehidupan tidak terlalu terasa karena kita juga bergaul dengan lingkungan yang setara dengan kita. Kemudian saat mulai sedikit melihat dunia, perbedaan itu nyata. Perbedaan yang terlihat langsung dari tampang, pakaian, gaya hidup, perilaku serta cara berpikir.

Bersyukurlah jika saat kecil untuk meminta apa-apa ke orang tua kita tak perlu menangis terlebih dahulu, atau untuk bayar buku sekolah disuruh dipending dulu. Saya jadi ingat teman saya sewaktu kita SD, dia minta tas baru kepada orang tuanya tapi belum dituruti sampai dia merengek nangis (waktu itu resleting tasnya rusak). Akhirnya besok dituruti si. Mungkin orang yang ekonomi menengah ke atas akan menyalahkan orang tuanya. “kenapa harus nunggu anak nangis dulu untuk kebutuhan sekolah?”. Bahkan ada yang sampai menyarankan anaknya bekerja saja daripada lanjut ke jenjang sekolah atas, menyedihkan bukan? Tapi kalau yang begini sudah sedikit berkurang, makin ke sini orang-orang juga makin mikir. Tapi ya bagaimana, didikan mereka saat kecil yang membentuk kepribadian mereka sebagai orang tua bukan? Kondisi ekonomi mereka saat itu sedang seperti apa perlu ditelisik.  

“Yang penting kerja buat bantu orang tua, lalu nikah biar ga mbebanin orang tua.”

Begitu kiranya pemikiran sederhana teman saya dan tentu kebanyakan orang di lingkungan saya. (apalagi yang perempuan) Memang mau kontribusi untuk siapa? Membuat apa? membangun negara?

Ribet.

Saya sebenarnya sedih ingat cita-cita adik saya yang dulu ingin jadi polisi. Cita-cita tinggi yang sepetinya ga bakal kesampaian, hal ini kadang membuat saya merasa bersalah, pasalnya saya kuliah dan menghabiskan uang yang lumayan. Walau sebenarnya saya juga tidak beda, cita-cita saya sudah terkubur indah bersama abu pembakaran saat bersih-bersih dokumen SMA tahun lalu.

Hidup memang keras, salut sama mereka yang bisa menggapai cita-citanya yang dari keluarga bawah. Pasti strugglingnya tidak main-main, korban waktu, perasaan dan tenaga yang luar biasa.

Dipikir-pikir paling enak kembali ke lagu mas Bondan Prakoso “Ya sudahlah”, cita-cita bukan satu-satunya hal yang bisa membuat kita bahagia bukan? Hal-hal sederhana harus lebih disyukuri dan dihargai agar terasa besar. Menjadi orang yang berguna juga banyak jalannya.

Semangat J  

 

Komentar

Postingan Populer