Fase 19 “Memaknai” Jilid 1

    Tujuan dan visi kita dibuat dari pengalaman-pengalaman yang ingin kita rubah dan kita mengalaminya sendiri. Tiba-tiba teringat guru baru pas saya kelas 3 SMA walaupun saya tidak diajar beliau tapi beliau katanya mengadakan bimbingan belajar matematika secara gratis. Sungguh baik hati bukan? Bisa saja itikad itu beranjak dari dirinya yang dulu susah untuk les dan memperoleh pendidikan yang gratis


    Sejauh ini banyak yang saya rasakan tentang perubahan pikiran, mungkin memang fasenya. Semua terasa berat dan melelahkan, menyakitkan. Semua hal tersebut masih tersimpan rapi perasaannya di dada saya, bahkan bisa dilihat dari tatapan saya. Cenderung masa bodoh dengan hal-hal remeh, ya memang sudah bukan waktunya berkejar-kejaran dengan hal yang sama sewaktu SMP dan SMA. Selain itu, ada rasa sakit yang masih belum hilang dan merasakan fase hidup ini layaknya sebuah mimpi. Saya sudah sampai sejauh ini, serasa baru kemarin memiliki kapasitas untuk berpikir sebagai manusia (memperoleh pendidikan formal dan mengingat kejadian-kejadian) dengan segala dramanya.

Semua menua.

    Orang tua kita, keluarga dan orang-orang di sekeliling kita. Perlahan mereka mencapai batasannya hidup di dunia. Awalnya Kematian seseorang hanya sebatas kabar duka menurut perspektif anak kecil, tapi saat kita merasakannya sendiri dan mulai memahami apa itu perasaan tentu menyakitkan. Banyak seseorang yang mencoba kuat, yang sebenarnya memendam sisi lemahnya dalam-dalam. Ya, saya melihat orang yang di depan terlihat tegar dan melihatnya menangis sendiri di tempat sepi.

    Sekilas cerita tentang almarhum ayah saya, beliau yatim piatu sejak SD sekitar kelas 4 atau lima. Ibu beliau meninggal di tanah transmigrasi akibat malaria dan akhirnya ayah beliau beberapa tahun atau bulan menyusul ibunya setelah memutuskan untuk kembali ke Jawa. Beruntung ayah saya punya dua kakak, perempuan dan laki-laki. Kehidupannya sangat berat dan beliau menjadi pecandu rokok sejak kelas 6 SD. Mungkin saya bisa memaklumi beberapa perokok dengan kehidupannya yang berat dan tidak semua orang kuat menjalaninya. Efek rokok katanya si menenangkan. Beliau pernah merantau ke Jakarta pada usia yang belia, yang akhirnya dia dicari oleh kakaknya yang menyusul ke sana dan menyuruh ayah saya untuk melanjutkan sekolah, kalau tidak salah SMP. Saya yakin di luar sana ada orang yang memiliki hidup yang berat bisa jadi lebih berat. Tentu mereka memiliki hati yang kuat. Ya, saya merindukan ayah saya, beliau sosok orang yang baik. Bahkan saya tak yakin saya bisa seperti beliau, suka membantu orang dan tidak neko-neko.

    Lalu, tulisan kali ini tentang memaknai apa? memaknai kehidupan. Mungkin hasilnya akan relatif, karena kita punya isi kepala yang berbeda-beda, tapi percayalah semua hal tidak bisa seperti yang kita inginkan, dan kita memang terpaksa harus berdamai dengan keadaan. Meletakkan ego dalam setiap Keputusan, terutama saat berselisih dengan seseorang. Bukan waktunya lagi mengejar nilai kosong atau pengakuan, menurut saya sebaiknya kita lebih mengedepankan mau dibawa kemana tujuan hidup kita, apakah tujuan itu cukup mulia untuk dikenang sebagai manusia? Bukan saya meremehkan beberapa orang dengan tujuan pengakuan, dan pengakuan itu perlu karena direndahkan adalah perbuatan keji kesombongan manusia yang menyakitkan. Cuma alangkah lebih baik hal tersebut dijadikan sebagai tujuan sekunder dibanding primer. Selain itu, tujuan materiil juga jangan menjadi tujuan akhir sesuatu saya yakin kita semua berpikir demikian. Materi hanya jembatan untuk mempermudah menuntaskan sebuah tujuan final dan tidak apa-apa untuk berawal dari mengacu materiil selama tidak hanyut ke dalamnya.

Ya, ini renungan saya hari ini dalam perspektif saya pada masa ini tentunya. Lain waktu bisa saja berubah, kan masa depan “mana tahu”.

Kita hidup bersama orang lain dan dikubur oleh orang lain.


Komentar

Postingan Populer