Hasil itu relatif

    Sering kali saya mengulang frasa “Manusia hanya pengupaya.” karena memang benar kita cuma bisa berusaha, kita bukan penentu hasil. Kepuasan akan suatu hasil usaha juga relatif. Saya akhirnya membuat tulisan ini setelah bertanya pada tempat sambat saya, walau dibalas singkat tapi saya akhirnya paham maksudnya.

  

    Hasil itu akan relatif, bergantung dari bagaimana kita menjalani proses dan menghargai sebuah esensi. Pada dasarnya si, jika sebuah usaha dilakukan dengan sekuat tenaga oleh seorang penikmat proses, hasil yang cuma tulisan di atas kertas (nilai sebagai output) ga terlalu berarti. Hasil sebenarnya sudah ia dapat, sebuah pengalaman dan sebuah peningkatan level menghadapi permasalahan. lalu apa gunanya nilai lagi? Ya bisa dibilang nilai sebagai reward dari luar, dan tidak dipungkiri ada perasaan bahagia saat mendapat nilai bagus, layaknya sebuah apresiasi.

    Tapi saat hasil tersebut tidak memuaskan? Di sinilah perlu ditekankan sebuah mindset tentang tujuan awal melakukan pekerjaan tadi. “Untuk Apa?” dan ingat untuk memikirkan kemungkinan terburuknya, saya akan melakukan apa dengan kemungkinan itu,

    Singkatnya “Semakin dewasa kita, kita tidak terlalu memikirkan hal remeh dan lebih memilih menjadi penikmat proses.” Penikmat proses cenderung melakukan sesuatu untuk dirinya dan melatih pola pikirnya.

    Agak terlalu idealis memang, tapi percayalah sangat manusiawi untuk kecewa dengan hasil. Ga salah juga kita butuh sebuah apresiasi dari pihak luar kok. cuma jangan terlalu lama hanyut dalam hal semacam itu, setelah emosi pulih alangkah lebih baiknya cari sisi positif.

    Kadang maksud dari sebuah hasil, baik tentang hal lingkup penilaian maupun ketetapan Tuhan (kegagalan misal) baru memiliki jawabannya setelah beberapa waktu.

    Ingat kasus orang yang telat naik pesawat, dan ternyata pesawatnya kecelakaan? Awalnya terasa nyesek dan harus reschedule dll, tapi akhirnya bersyukur.

    Ada baiknya menyibukkan diri dengan hal lain, agar tidak terlalu memikirkan tentang hasil alias bisa bersikap “bodo amat.” Banyak hal yang lebih menarik dilakukan ketimbang overthinking, akhirnya saya menggunakan Common phrase tersebut wkwkwk. Di masa tersebut, hobi sangat bisa membantu mengalihkan pikiran kok.

 

Mungkin segitu menurut pandangan saya di waktu sekarang.

Kalau di masa yang akan datang mana tahu.

 

#hasil 

Komentar

Postingan Populer