Tentang cycle hidup dan kelas alias kasta
Hem... ga sengaja ngeliat
pak menteri di suatu stasiun tv, anak
beliau yang terakhir jadi dokter dan lagi koas. Hampir mirip dengan sebuah talkshow
bertajuk “suskes di usia muda” tapi pembicaranya malah seseorang yang dari
jabang bayi sudah tajir melintir, anak seorang politikus sekaligus CEO
perusahaan terkenal.
Cuma lagi mikir cycle
hidupnya bagus banget, kalangan atas dan beda sama saya yang ngestuck di sini.
Susah banget untuk lepas dan jadi orang yang hebat, emang effortnya ga mudah
dan lingkungannya juga beda si.
Sekeren-kerennya artis,
tapi pendidikannya masih level rendah masih aja dianggap remeh sama orang-orang
kalangan atas. Kaum borjouis, protelar macam ini bisa apa?
Perasaan buat nulis ini
ga bisa dibendung, rasanya kek ngeliat surga dubiani hidup mereka. Ya walaupun
hidup saya pribadi juga lagi ayem dan ga ada masalah, tapi merasakan
kesederhanaan ini ga terlalu istimewa deh.
Kenapa saya ga bisa break
my limit, atau emang gini. Ya sudah saya pasrah saja si, kalau mikir gini
selalu balik ke presepsi sesat hidup itu ga adil. Padahal takaran adil untuk
tiap orang itu beda-beda ga bisa disamain maupun digeneralisir.
Ya istilahnya sendok emas
dan sendok tanah alias kayu si, persis kek sebuah webtoon yang pernah saya
baca, udah tamat tapi. Pesan moralnya kalau kita emang emas kita bakal tetep
bersinar, tapi kalau kita sendok emas setidaknya masalah dalam hidup kita kelar
satu, mau ngapa-ngapain gampang dan bisa lancar, tinggal didukung usaha kita
yang ga terlalu berdarah-darah dibanding mereka yang memulai dari bawah.
Semoga saja coretan
tiba-tiba tengah malam ini ada yang baca, saya cuma kalangan menengah ke bawah
yang masih stuck di kasta saya, ga naik. Kadang suka kasihan dan iba sama yang
hidupnya lebih susah, kenapa cobaan mereka berat dalam hidup. Tapi mereka
mengandung pembelajaran tentang bersyukur. Cape kalau liat ke atas, tapi ga
salah juga si.
Bergaul dengan kaum atas
akan lebih membuka wawasan dengan dunia mereka, ya sama juga kalau kita banyak
bergaul dengan orang-orang kaum bawah.
Semoga saya punya hidup
yang selalu bisa diceritain, dan bermanfaat bagi orang lain.
Yap, tujuan hidup
sekarang lebih ke bermanfaat bagi orang lain si, kalau mimpi ga tercapai sudah
biasa, dan emang bukan saya saja.
semangat sahabat
BalasHapus-kekeyi