Curcol 2 (mengeluh)

Sial, tahun tahun terlalu cepat berganti. Di usia yang bertambah juga, yang tak terasa kemampuanku stuck disini, terbaring dalam waktu yang lama.
Cuma meminum air putih, yang kadang ku campur teh dari teko setidaknya mampu mengembalikan kewarasan kepala.
"Sains sial," aku memaki di pagi hari yang labil, matahari waktu itu didekati awan kelabu tipis bagai kabut.
sejak kapan pula aku bertemu dengan sesuatu seabstrak ini, yang jika aku larit semakin dalam semua terasa absurt, blunder dan dipenuhi segala kemungkinan.
Ini namanya jurang, kalau sudah terjun entah akan bisa naik kembali atu tidak. Jujur banyak nalarku yang dibolak balikan disini, menjadi orang yang agak berbeda. Kehilangan beberapa cara berbahasa, rasa untuk banyak bicara. Apa ini merubahku?

"Prang"
Aku yang tengah dudk di depan teras sambil melamun tadi mendadak bangun, suara barang pecah.
Agak aneh sebenarnya mengingat rumahku jarang sekali punya barang keramik maupun kaca, gelas sendok piring semua plastik, dan kalau ada yg agak solid, itu pun atum, tentu suaranya akan beda saat jatuh ke tanah.

Tukang es, penjual mie lidi. Ngelakuin itu, tu bagian dari nyari uang jajan. Ga menyedihkan sama sekali, bener deh, heran sama orang2 yg mikir pekerjaan itu rendah, padahal mah ya cari duit ginian lumayan buat jajan.

Apakah cinta hanya masalah peningkatan hormon secara mendadak?
Lalu apa itu yg disebut rasa? Perasaan, naluriah dan esensi. Kalau semua disamaratakan, berarti semua harusnya sejalan dengaj sains. Kenapa kita memiliki keinginan yg berbeda?

Komentar

Postingan Populer