Sembab di Pojok pelipis
Manusia
tua ini harus berkaca pada anak kecil biasa. Ia yang sungguh pemalas mulai
membungkus tiap bait kata, tapi ia tak mampu. Maksudku cuma untuk bicara saja
tak mampu, katanya hidup adalah sebuah sesal.sesal yang barangkali bisa
ditorehkan kepadaku. Ujarnya, supaya
beban pada pundakya serta bendungan menyesakan dalam dadanya itu agak berkurang. Tapi toh sama saja.
Aku
ini bukan pakar ataupun motivator, omongku ya paling cuma menasehati “sabar”
dan aku rasa juga kata-kata itu tak bakal cukup menyeka sendu dari wajahnya.
~~~~
Dia
mulai sesenggukan menjelaskan isi hatinya kepadaku “sa, bagaimana tidak hati
ini rontok sa, ibuku! Ibuku! Dia mau memisahkan aku dari bapak ! bapaku sa!”
mulainya bicara tanpa ancang-ancang.
“Lah
penyebabnya apa? Ibumu mbok pasti punya alasan” tukasku mengiringi isi
pembicaraan curhatnya.
“
ya gitu... mentang-mentang dia ibuku dan yg melahirkanku. Hak ku juga ada
padanya? Katanya bapak tidak lebih baik bersama aku dan dia.
karena........” omonganya berlanjut tapi
kata itu menggantung di akhir.
“karena
apa? Ngomong yang terang” lanjutku.
“karena...
bapak..... selingkuh “ jawabnya agak pelan dengan air meleleh di pojok indera
penglihatanya yg mengembun. “ jadi.. ibu kamu udah benar kan?” lanjutku menegaskan
alur ini.
“
ya ndak gitu, apa meh aku dipisahin sama bapak ? gak bisa”
“bapak
itu loh... tau waktu ibuku minggat -walau ngomongnya nyari kerja ke Taiwan-
siapa yang ngerwat aku?... ya bapaku sa.. bapaku. “
“sudah
puaskah dia??”
“ahh,
harusnya juga aku ikut bapak sa!”
Aku
diam,mematung dan tak tahu apa yang harus ku omongkan lagi.
Perlahan
dia berhenti bicara. Tapi nampaknya sesenggukan di matanya tak habis lagi
dicampur rintik yang kini mengguyur pipinya.
Ia cuma pergimenjauh membalikan badan dan
beberapa kali mengurai rambutnya dihadapanku, Sahabatnya.
~
Komentar
Posting Komentar