Kanaya..(cerpen)


”emm.. apa yang bisa gadis sepertiku dapat? Cacian makian? Ejekan? Gurauan? Atau lirikan sebelah mata atas semua capaianku?” Kanaya yang kini menatap lawan bicaranya seolah lelah berdebat dengan nasib -yang katanya memuakan itu- tengah meluapkan segala kata-kata dalam mulutnya kepada Sinta.

“kau tahu, apakah dunia masih belum puas menempatkanku pada titik kata *hampir* alias titis ini? Asal kau tahu bukanya aku sombong atau apa, tapi jelas potensiku dibanding dia jauh lebih baik, tapi kenapa takdir selalu lebih mempermasalahkan ketidakberuntunganku? Well, memamg semua itu tak bakal terjadi jika aku terus berharap tapi sungguh yang membuatku masih snaggup hidup dan bernafas sampai kali ini adalah harapan akan esok yang anehnya aku sudah tahu hasil dari esok pada diriku adalah ya... khianat dan rasanya harapanku serta ruh dalam hatiku telah hancur berkeping-keping kali ini. Ya, asal kau tahu seberapa rendah aku?. Hem.. kaum yang tidak punya potensi? Aku sekarang masuk ke daerah seperti itu dan tentunya dengan gerombolan yang entahlah untuk dideskrisikan. Tapi rasanya sungguh menggoyak kaca menjadi beling bukan?” kini Kanaya melanjutkan argumenya.

“baiklah, baiklah... sebelumnya tentang praduga dan ya omonganmu semua itu jujur aku agaknya kurang paham, terutama kosakatamu semua seperi tulisan pelajaran sastra di kepalaku Kanaya, tapi satu yang bisa aku katakan padamu. lebih baik kamu mencari kesibukan lain, ya... hitung-hitung menghilangkan bayangan iri dan sebalmu itu..” Sinta sebenarnya agak kebingungan menjawab curahan kata-kata sahabatnya itu dan yang ia kini bisa lakukan adalah mengucapkanya sambil agak tersenyum dengan sebisa mungkin terliht natural dari pada dibuat-buat.

“oke, maksudmu hal lain itu?.. mencari cinta?” kanaya menjawab agak malu-malu dan lirih.

“hah?!...” Sinta kaget dan tak sengaja menyembur air es teh manis yang sedari tadi ia sandingkan dengan siomaynya.

 “tunggu dulu, kau serius tentang mencari cowo? Hey sahabatku mulai masuk akal kali ini” Sinta tertawa menyaksikan muka kanaya yang kini agak berubah kemerahan di pipi.

“em.. kau mau cowok tipe gimana? Cool? Badboy? Atau yang mana?” Sinta menawarkan dirinya, kali ini sok sebagai mak comblang.

“Sinta, kenapa malah jadi ngelantur sih, siapa juga yang mau pacaran? Ngabisin waktu aja.” Kanaya yang tersipu malu segera mmebuka topik lain dan menutup topik yang sedari tadi membuat sinta sahabatnya tertawa geli.

“heits, bukanya kamu yang mau mencari apa.. apa namanya.. oh ya CINTA? Wkwkwk” Sinta malah semakin ngakak dengan ulah Kanaya yang kini malu dengan apa yang dibilang tadi. Dan untungnya suasana kantin kali ini sepi dan tak banyak anak yang lalu lalang pada jam segini –karena ini sebenarnya adalah jam masuk pelajaran.


Cring...


Susana di kantin rasanya agak senyap dengan seketika, selepas tertawanya Sinta atas tingkah Kanaya. Kanaya kini agaknya ngambek terhadap sahabat karibnya yang telah sejak SD bersama denganya.
 Bagi kanaya cinta itu seperti hal semu yang aneh dan banyak anomalinya, tapi nyatanya hal itu berbanding terbalik dengan sahabatnya Sinta yang memang sudah punya pacar dan ya.. bisa dibilang punya mantan banyak –tapi bukan playgirl ya-

Penampilan Kanaya memang agak cupu dengan kaca mata yang membuat hidung gerah memakainya serta style para nerd. Dia memang anak yang cukup pintar tapi sayang tidak cukup pintar untuk memjukan dirinya sendiri. Entahlah yang jelas anak-anak di kelasnya itu pintar dan pandai dalam hal apa saja, mau itu bergaul, public speaking dan lain-lain sebab begitulah isi kelas unggulan dimana seorang Kanaya terdampar di tempat dengan penghuni beramunisi kuat untuk menjatuhkan lawan.

Ranking 10 rasanya cukup memuaskan, mengingat kalau angkanya dibalik akan menjadi 01 ya kan? Begitulah Kanaya yang agak ceroboh dan gugupan kalau bicara dengan lawan jenis.

Komentar

Postingan Populer