puisi bernaung di bawah hujan

Bukan.....
Seperti bicara sendiri,
Seperti kehilangan hidup.
 Hanya bisa terenyuh menangkap fatamorgana sisi yg kini nyata.
Kuharap ini akan fana, hilang dan takan terjadi kedua kalinya.
Dari sudut pojok jendela jendela tanpa kaca pembuka pintu dan engsel.
 Menatap melihat bukan bahagia.
Berharap takan lagi dan takan pernah diulangi. Suara tanpa muka bersinar bersama busa angintapi bukan Bahagia.
Membuka menaruh dan mengunci diri di balik hawa senggang yg tak bernyawa , sekali lagi Bukan Bahagia.
Bukan kataku, bukan , dan sekali lagi bukan.
Bait-bait yang hanya kuharap Cuma aku yg mampu merasa.
Rasa bergulir dijiwa menarikulur bola mata untuk menahan rintik.
 Titik bukan hujan yg menghapus, bukan sekali lagi bukan bahagia....
Kau dengar, itu jika kau tak tuli.
Kertas kertas berimajinasi menulis pikiran burung burung yang marah...
Sekali lagi bukan. Bukan bahagia.
  Kau mampu jika tak bisu.
Bercakap dengan laknat mengutuk dengan murka..
Sekali lagi bukan bukan bahagia..
Dan bilamana tangan ini sudah tak mampu berhias dengan wujud ilusi akupun juga akan berhenti...
Berhenti sekali lagi bukan bahagia.
Seperti binatang yang bersayap tapi tak mampu terbang.

Ans....

Komentar

Postingan Populer